Thursday, August 6, 2026

Mencari Benih yang Pernah Kami Tanam di Masa Kecil

 


Jika mesin waktu benar-benar ada, saya tahu persis, kemana saya akan kembali. Bukan ke tempat yang jauh, cukup ke halaman rumah, tempat kami berlari tanpa sandal, pulang dengan lutut penuh bekas luka, dan dimarahi ayah ibu karena lupa waktu.

Kalau ada yang bertanya, “Mainan apa yang paling mahal waktu kamu kecil?” mungkin saya akan bingung menjawabnya, karena seingat saya, kami hampir tidak pernah membeli mainan, tetapi kami membuat mainan.

Waktu itu tidak ada lego, tidak ada Barbie, tidak ada Nintendo, tidak ada PlayStation, tidak ada Ipad. Tetapi ada pohon, ada tanah, ada daun, ada pelepah kelapa, ada selokan, ada sungai, ada keong, dan ada teman. Lalu semuanya berubah menjadi dunia yang begitu kaya.

Main petak umpet, main polisi-polisian, main sondah, main loncat tinggi, adalah motivasi kuat untuk tidak absen pergi mengaji setiap hari, karena banyak teman yang sama-sama bermain sore hari di halaman surau.

Main ayunan di dahan pohon yang menjuntai sepulang sekolah, adalah hal tak terlupakan. Semakin tinggi ayunannya, semakin keras tawa kami pecah. Rasanya seperti bisa menyentuh langit. Teriakan peringatan Ayah ibu karena khawatir kami terjatuh, seolah tidak terdengar.

Di hari lain, kami membuat kue-kue dari tanah. Tanah dibentuk bulat-bulat, dihias daun-daunan, dan ditata di wadah yang kami anyam dari daun kelapa. Lalu kami saling memuji rasa yang tak pernah benar-benar ada. Anehnya kami kenyang oleh imajinasi.

Kemudian tempe-tempean kami buat dari tanah yang di atasnya ada lumut-lumut hijau, dipotong segi empat dengan hati-hati, lalu dipajang dengan bangga seolah sedang membuka warung paling laris di kampung.

Main masak-masakan adalah hari-hari seru lainnya. Kami membuat “minyak goreng” dengan memeras daun wera sampai keluar cairan bening kekuningan, mirip minyak goreng, lalu kami mencari keong-keong kecil yang banyak kami dapati di sungai tak jauh dari rumah, kemudian memasaknya dengan api. Entah bagaimana rasanya kalau dimakan, yang jelas kami merasa menjadi koki hebat.

Kami juga pernah menjadi pedagang. Uangnya bukan dari kertas bergambar pahlawan, melainkan dari daun pisang yang dibentuk bulat kecil atau dari daun beragam ukuran. Nilainya? Terserah kami. Hari itu mungkin selembar daun bernilai seratus rupiah, besok bisa berubah menjadi seribu. Tidak ada yang protes. Kami adalah bank sentral sekaligus menteri keuangan dalam dunia kecil kami.

Jika bosan main masak-masakan, kami membuat kincir air dari tangkai daun singkong. Lalu kami meletakkannya di selokan yang airnya begitu jernih. Kami duduk lama hanya untuk memperhatikan kincir itu berputar mengikuti arus. Anehnya, kami tidak pernah merasa sedang membuang waktu.

Dari tangkai daun singkong, kami juga membuat gelang dan kalung, lalu membuat kepangan dari bunga-bunga untuk membuat bando indah penghias kepala. Kemudian kami gunakan kain-kain yang dilipat, digulung, dirempel menggunakan tali rapia dan peniti, sebagai rok atau baju, lalu kami bergiliran berlenggak-lenggok bagaikan berjalan di atas catchwalk.

Siang hari ketika terasa udara begitu panas dan membuat gerah…. Ah, ada sungai sebagai kolam renang besar yang pernah kami miliki. Airnya dingin, batu-batunya licin. Kadang kami pulang dengan kulit menghitam dan keriput, setelah orang tua kami berteriak-teriak mengingatkan karena terlalu lama bermain. Tapi besoknya kami kembali lagi.

Jika ada tetangga yang menebang pohon kelapa, kami memanfaatkannya untuk membangun rumah-rumahan, lalu bermain di dalamnya serasa tinggal di rumah terbaik.

Sekarang, ketika semua kenangan itu datang satu per satu, saya baru sadar bahwa kami sesungguhnya sedang belajar. Belajar mencipta ketika mengubah tanah menjadi kue, belajar memecahkan masalah ketika kincir air tidak mau berputar. Belajar bekerja sama membangun rumah-rumahan dari pelepah kelapa. Belajar bernegosiasi ketika uang dri daun tidak cukup untuk membeli sayur atau kue buatan teman, belajar memimpin, mengikuti aturan main, bergantian, bahkan belajar berdamai setelah bertengkar.

Lucunya, tidak ada satu pun orang dewasa yang berkata “Hari ini kalian sedang mengembangkan kretivitas”. Kami hanya disebut sedang bermain.

Baru bertahun-tahun kemudian saya mengerti bahwa permainan-permainan itu sedang menanamkan sesuatu dalam diri kami. Sedikit demi sedikit, diam-diam, tanpa kami sadari.

Hari ini saya melihat anak-anak tumbuh dalam dunia yang berbeda. Mainannya lebih canggih dan beragam, warnanya lebih menarik, teknologinya lebih hebat.

Namun, kadang saya bertanya dalam hati, apakah mereka masih punya kesempatan untuk menciptakan mainannya sendiri? Masihkah mereka mengenal aroma tanah setelah hujan? Masihkan mereka memandangi daun yang jatuh lalu membayangkannya menjadi uang, piring, atau perahu?

Saya tidak sedang merindukan masa lalu karena ingin bernostalgia. Setiap zaman memiliki kelebihan dan tantangannya sendiri. Teknologi pun membawa banyak manfaat bila digunakan dengan bijak. Namun saya percaya ada satu hal yang tidak boleh hilang dari masa kanak-kanak, yaitu kebebasan berimajinasi. Sebab masa kecil bukan sekedar fase kehidupan, tetapi ia adalah  musim ketika benih-benih karakter mulai ditanam. Benih keberanian, benih kepemimpinan, benih kreativitas, benih ketekunan, dan benih rasa ingin tahu.

Dan benih-benih itu seringkali tumbuh bukan di ruang kelas, melainkan di bawah pohon, di tepi sungai, di halaman rumah, atau di tanah yang kami sulap menjadi toko kue.

Kami tidak punya banyak mainan. Karena itulah kami belajar membuat mainan. Alam menjadi toko yang tak pernah tutup. Pohon memberi ayunan, tanah menjadi kue, daun pisang berubah menjadi uang, selokan menjadi pembangkit listri kecil bagi kincir buatan kami, dan sungai menjadi kolam renang. Rasanya seluruh kampung sedang bekerja sama membesarkan imajinasi kami.

Kalau hari ini saya diminta pulang ke masa kecil, mungkin saya tidak ingin membawa pulang ayunannya, sungainya, atau uang dari daun pisang itu

Saya hanya ingin membawa pulang satu keyakinan, bahwa setiap anak membutuhkan ruang untuk bermain, berimajinasi, dan menciptakan dunianya sendiri. Karena dari permainan-permainan sederhana itulah, tanpa disadari, masa depan mulai bertumbuh.

Dulu saya mengira hanya main polisi-polisian dan main petak umpet. Dulu saya mengira hanya main masak-masakan. Hari ini saya baru sadar, rupanya kehidupan sedang diam-diam melatih saya memimpin, melatih saya untuk kreatif. Saya kemudian percaya, masa kecil bukan sekedar kenangan. Ia adalah tempat kehidupan menanam benih-benih masa depan.


No comments:

Post a Comment

Terbaru

Mencari Benih yang Pernah Kami Tanam di Masa Kecil

  Jika mesin waktu benar-benar ada, saya tahu persis, kemana saya akan kembali. Bukan ke tempat yang jauh, cukup ke halaman rumah, tempat ka...

Populer