Jika mesin waktu benar-benar ada, saya tahu persis, kemana saya
akan kembali. Bukan ke tempat yang jauh, cukup ke halaman rumah, tempat kami
berlari tanpa sandal, pulang dengan lutut penuh bekas luka, dan dimarahi ayah
ibu karena lupa waktu.
Kalau ada yang bertanya, “Mainan apa yang paling mahal waktu kamu
kecil?” mungkin saya akan bingung menjawabnya, karena seingat saya, kami hampir
tidak pernah membeli mainan, tetapi kami membuat mainan.
Waktu itu tidak ada lego, tidak ada Barbie, tidak ada Nintendo,
tidak ada PlayStation, tidak ada Ipad. Tetapi ada pohon, ada tanah, ada daun,
ada pelepah kelapa, ada selokan, ada sungai, ada keong, dan ada teman. Lalu
semuanya berubah menjadi dunia yang begitu kaya.
Main petak umpet, main polisi-polisian, main sondah, main loncat
tinggi, adalah motivasi kuat untuk tidak absen pergi mengaji setiap hari,
karena banyak teman yang sama-sama bermain sore hari di halaman surau.
Main ayunan di dahan pohon yang menjuntai sepulang sekolah, adalah
hal tak terlupakan. Semakin tinggi ayunannya, semakin keras tawa kami pecah.
Rasanya seperti bisa menyentuh langit. Teriakan peringatan Ayah ibu karena
khawatir kami terjatuh, seolah tidak terdengar.
Di hari lain, kami membuat kue-kue dari tanah. Tanah dibentuk
bulat-bulat, dihias daun-daunan, dan ditata di wadah yang kami anyam dari daun
kelapa. Lalu kami saling memuji rasa yang tak pernah benar-benar ada. Anehnya
kami kenyang oleh imajinasi.
Kemudian tempe-tempean kami buat dari tanah yang di atasnya ada
lumut-lumut hijau, dipotong segi empat dengan hati-hati, lalu dipajang dengan
bangga seolah sedang membuka warung paling laris di kampung.
Main masak-masakan adalah hari-hari seru lainnya. Kami membuat
“minyak goreng” dengan memeras daun wera sampai keluar cairan bening
kekuningan, mirip minyak goreng, lalu kami mencari keong-keong kecil yang
banyak kami dapati di sungai tak jauh dari rumah, kemudian memasaknya dengan
api. Entah bagaimana rasanya kalau dimakan, yang jelas kami merasa menjadi koki
hebat.
Kami juga pernah menjadi pedagang. Uangnya bukan dari kertas
bergambar pahlawan, melainkan dari daun pisang yang dibentuk bulat kecil atau
dari daun beragam ukuran. Nilainya? Terserah kami. Hari itu mungkin selembar
daun bernilai seratus rupiah, besok bisa berubah menjadi seribu. Tidak ada yang
protes. Kami adalah bank sentral sekaligus menteri keuangan dalam dunia kecil
kami.
Jika bosan main masak-masakan, kami membuat kincir air dari
tangkai daun singkong. Lalu kami meletakkannya di selokan yang airnya begitu
jernih. Kami duduk lama hanya untuk memperhatikan kincir itu berputar mengikuti
arus. Anehnya, kami tidak pernah merasa sedang membuang waktu.
Dari tangkai daun singkong, kami juga membuat gelang dan kalung,
lalu membuat kepangan dari bunga-bunga untuk membuat bando indah penghias
kepala. Kemudian kami gunakan kain-kain yang dilipat, digulung, dirempel
menggunakan tali rapia dan peniti, sebagai rok atau baju, lalu kami bergiliran
berlenggak-lenggok bagaikan berjalan di atas catchwalk.
Siang hari ketika terasa udara begitu panas dan membuat gerah….
Ah, ada sungai sebagai kolam renang besar yang pernah kami miliki. Airnya
dingin, batu-batunya licin. Kadang kami pulang dengan kulit menghitam dan
keriput, setelah orang tua kami berteriak-teriak mengingatkan karena terlalu
lama bermain. Tapi besoknya kami kembali lagi.
Jika ada tetangga yang menebang pohon kelapa, kami memanfaatkannya
untuk membangun rumah-rumahan, lalu bermain di dalamnya serasa tinggal di rumah
terbaik.
Sekarang, ketika semua kenangan itu datang satu per satu, saya
baru sadar bahwa kami sesungguhnya sedang belajar. Belajar mencipta ketika
mengubah tanah menjadi kue, belajar memecahkan masalah ketika kincir air tidak
mau berputar. Belajar bekerja sama membangun rumah-rumahan dari pelepah kelapa.
Belajar bernegosiasi ketika uang dri daun tidak cukup untuk membeli sayur atau
kue buatan teman, belajar memimpin, mengikuti aturan main, bergantian, bahkan
belajar berdamai setelah bertengkar.
Lucunya, tidak ada satu pun orang dewasa yang berkata “Hari ini
kalian sedang mengembangkan kretivitas”. Kami hanya disebut sedang bermain.
Baru bertahun-tahun kemudian saya mengerti bahwa
permainan-permainan itu sedang menanamkan sesuatu dalam diri kami. Sedikit demi
sedikit, diam-diam, tanpa kami sadari.
Hari ini saya melihat anak-anak tumbuh dalam dunia yang berbeda.
Mainannya lebih canggih dan beragam, warnanya lebih menarik, teknologinya lebih
hebat.
Namun, kadang saya bertanya dalam hati, apakah mereka masih punya
kesempatan untuk menciptakan mainannya sendiri? Masihkah mereka mengenal aroma
tanah setelah hujan? Masihkan mereka memandangi daun yang jatuh lalu
membayangkannya menjadi uang, piring, atau perahu?
Saya tidak sedang merindukan masa lalu karena ingin bernostalgia.
Setiap zaman memiliki kelebihan dan tantangannya sendiri. Teknologi pun membawa
banyak manfaat bila digunakan dengan bijak. Namun saya percaya ada satu hal
yang tidak boleh hilang dari masa kanak-kanak, yaitu kebebasan berimajinasi.
Sebab masa kecil bukan sekedar fase kehidupan, tetapi ia adalah musim ketika benih-benih karakter mulai
ditanam. Benih keberanian, benih kepemimpinan, benih kreativitas, benih
ketekunan, dan benih rasa ingin tahu.
Dan benih-benih itu seringkali tumbuh bukan di ruang kelas,
melainkan di bawah pohon, di tepi sungai, di halaman rumah, atau di tanah yang
kami sulap menjadi toko kue.
Kami tidak punya banyak mainan. Karena itulah kami belajar membuat
mainan. Alam menjadi toko yang tak pernah tutup. Pohon memberi ayunan, tanah
menjadi kue, daun pisang berubah menjadi uang, selokan menjadi pembangkit
listri kecil bagi kincir buatan kami, dan sungai menjadi kolam renang. Rasanya
seluruh kampung sedang bekerja sama membesarkan imajinasi kami.
Kalau hari ini saya diminta pulang ke masa kecil, mungkin saya
tidak ingin membawa pulang ayunannya, sungainya, atau uang dari daun pisang itu
Saya hanya ingin membawa pulang satu keyakinan, bahwa setiap anak membutuhkan ruang untuk bermain, berimajinasi, dan menciptakan dunianya sendiri. Karena dari permainan-permainan sederhana itulah, tanpa disadari, masa depan mulai bertumbuh.
Dulu saya mengira hanya main polisi-polisian dan main petak umpet. Dulu saya mengira hanya main masak-masakan. Hari ini saya baru sadar, rupanya kehidupan sedang diam-diam melatih saya memimpin, melatih saya untuk kreatif. Saya kemudian percaya, masa kecil bukan sekedar kenangan. Ia adalah tempat kehidupan menanam benih-benih masa depan.

No comments:
Post a Comment