“Waktu selalu tahu kapan seseorang harus tampil dan kapan harus menunduk memberi ruang bagi yang lain. Karena hidup adalah panggung yang tak pernah sepi dari pemain.”
Ada masa ketika nama Michael Jackson bergema di setiap radio, ketika setiap langkah moonwalk-nya membuat dunia terpana. Ada masa ketika Jackie Chan menjadi wajah keberanian di layar kaca, melompat dari gedung ke gedung tanpa bantuan efek komputer. Ada masa ketika Albert Einstein mengguncang dunia sains dengan rumus yang mengubah cara manusia memahami semesta.
Lihatlah ke dunia olahraga. Dulu kita mengenal Diego Maradona, Michael Jordan, Serena Williams — nama-nama besar yang seolah tak tergantikan. Namun waktu membuktikan, setelah mereka menepi, muncul generasi baru: Lionel Messi, LeBron James, Naomi Osaka. Mereka bukan pesaing, mereka penerus.
“Ketika masa kita telah lewat, itu bukan tanda kita tidak berguna, tapi tanda bahwa kita telah menyelesaikan bagian terbaik dari peran kita.”
Kita sering takut pada pergantian masa. Takut kehilangan sorotan, kehilangan peran, kehilangan arti. Padahal sejatinya, ketika masa kita telah lewat, itu bukan akhir — itu peralihan menuju bentuk kebijaksanaan yang lain.
Seorang guru yang dulu gagah berdiri di depan kelas, kini duduk di bangku belakang mendengarkan muridnya memberi kuliah — itu bukan kemunduran, melainkan kemenangan. Artinya, apa yang ia tanam telah tumbuh menjadi pohon yang memberi teduh bagi banyak orang.
Michael Jackson mungkin tak lagi menari, tapi lagunya masih hidup. Einstein telah tiada, tapi rumusnya menjadi dasar penemuan modern. Jackie Chan mungkin tak lagi melompat dari helikopter, tapi filmnya tetap menginspirasi generasi baru tentang kerja keras dan dedikasi.
Setiap masa memberi panggung baru bagi mereka yang dulu duduk di pinggir. Hari ini, mungkin kita melihat anak muda yang dulu tak dikenal, kini menjadi inovator, pemimpin, atau inspirator baru. Dunia digital mempercepat semuanya — yang muda melesat cepat, yang lama belajar mengiringinya dengan bijak.
Seperti matahari dan bulan yang bergantian menerangi bumi, setiap manusia punya giliran cahayanya sendiri. Tak perlu cemburu, tak perlu merasa kalah. Cahaya itu tak pernah padam — ia hanya berpindah tempat.
Pada akhirnya, hidup bukan soal siapa yang paling lama di atas panggung, melainkan siapa yang paling tulus memainkan perannya. Kita semua punya masa emas masing-masing — masa di mana ide mengalir, tenaga kuat, semangat membara. Tapi seiring waktu, kita belajar menikmati masa istirahat: menjadi penonton yang tersenyum melihat pemain baru tampil. Karena di sanalah kebahagiaan sejati — bukan ketika kita mengejar sorotan, tapi saat kita bersyukur pernah mendapatkannya.
“Hidup adalah festival panjang. Ada yang tampil pagi, ada yang tampil sore. Tapi setiap peran penting bagi cerita besar bernama kehidupan.”
Suatu hari, waktu akan menepuk bahu kita pelan dan berkata, “Sudah cukup, kini giliran yang lain.” Dan mungkin, dengan tenang kita menjawab, “Baiklah. Semoga mereka juga bersinar sebagaimana aku dulu bersinar.”
Karena setiap orang ada masanya, dan setiap masa punya orangnya. Yang membuat kita abadi bukanlah lamanya kita hidup di panggung, melainkan makna yang kita tinggalkan setelah lampu padam.

No comments:
Post a Comment